Wednesday, April 6, 2016

Margin VS Cash Flow



Penulis : Tim Admin www.Simsprinting.com

Dunia Motivasi VS Dunia Riil

Apa maksudnya judul di atas? Kenapa dipertentangkan? Bukankah margin yang baik akan “membaguskan” cash flow? Atau… bukankah kita bisa mendapatkan keduanya sekaligus?

Jawabannya tergantung “dunia mana” yang kita pilih. JIka dunia “motivasi”, maka ya! Margin yang bagus, cash flow juga bagus. Atau kita bisa lho dapat margin bagus dan cash flow yang bagus sekaligus…

Namun dalam “dunia riil”, seringkali kita hidup dalam pilihan-pilihan. Apalagi untuk bisnis-bisnis “bermodal dengkul” atau minim modal. (Dalam kenyataannya tidak ada yang benar-benar bisnis modal dengkul, kecuali bisnis “pengemis” mungkin). Dalam kondisi minim modal, sering kali itu adalah pilihan, menjual sesuatu yang fast moving tapi marginnya kecil atau menjual sesuatu yang marginnya besar tapi slow moving?

Bagi mereka yang modalnya “tinggal diawur” tentu tidak masalah dengan 2 idiom tersebut. Tapi buat yang bermodal pas-pasan, sering kali kita harus memilih menjual produk / jasa yang marginnya kecil tetapi bisa menghasilkan cash flow yang cepat.

Misal jasa fotografi, jasa pemotretan dengan klien UKM yang “hanya mampu” membayar ratusan ribu, tetapi “langsung dibayar” ketika selesai itu mungkin memiliki margin yang minim. Namun kita langsung bisa dapat cash-nya. Sedangkankan klien korporat, yang bisa membayar jutaan bahkan belasan juta untuk satu sesi pemotretan, kita harus bersabar menunggu pembayaran 2-3 bulan yang baru diproses sejak hasil pemotretan diberikan. Tetapi ternyata mendapatkan klien korporat butuh 1-2 bulan pendekatan, mulai dari proses pitching, penawaran hingga akhirnya deal. Total kalau dihitung butuh waktu 4-6 bulan !



Itu soal waktu, belum lagi soal volume. Misal, sebuah rumah makan menjual makanan “spesial”, ayam rica-rica, harga per porsi 25rb, nasi 5rb, teh  botol 4rb, total 34rb. Kalau dihitung-hitung, aslinya kita dapat margin sampai 15rb untuk semua itu. Lalu kita jual “paket“ juga, paket nasi ayam rica-rica + gratis teh botol, dijual total 25rb, dihitung-hitung, margin kita cuma 8rb misalnya.  Tentu porsi ayam dan nasinya beda dengan yang terpisah.

Tapi… ternyata konsumen si rumah makan yang mayoritas karyawan kantoran (yang terlihat parlente) itu lebih banyak yang membeli paket nasi ayam rica-rica ketimbang membeli terpisah. Entah karena praktis atau aslinya budget makan siangnya terbatas. Tapi mungkin itu kenyataannya. Walau volume ayam dan nasinya beda, tapi bisa jadi tidak masalah buat mereka, yang penting masuk budget. Mungkin beberapa kali mereka akan beli ayam rica-rica yang versi non paket, misal saat-saat khusus, ketika mereka harus menraktir koleganya. Tapi berapa banyak “momen itu” dalam sebulan?

Contoh lain bisnis fotokopi. Tentu cape melayani  fotokopi 1 lembar, 2 lembar, KTP 2 lembar atau foto kopi lainnya yang  1 konsumen Cuma kasih order yang nilainya bahkan tak sampai 1000 rupiah. Daripada konsumen yang sekali datang, bawa buku asing, 300 halaman dan minta diperbanyak 100 kali misalnya. Namun berapa banyak konsumen fotokopi tipe 2 itu dibandingkan tipe 1 jika bisnis fotokopi kita tak berada di area kampus misalnya?

Dalam bisnis fashion, tentu nikmat bener, bisa jual baju yang modalnya 500rb, kita bisa jual 1,5juta. Margin 1 juta ! Dibanding jual baju yang kita beli di harga 50rb dan kita harus jual di harga maksimal 65rb. Tapi dalam dunia riil, berapa banyak orang mau beli baju seharga 1,5juta? Kecuali kita bergaul dengan sosialita kelas atas. (Dan perlu dihitung juga biaya pergaulan kita dengan sosialita kelas atas itu, seperti makan di tempat mewah, clubbing, golf, dll dll).

Pikiran Kita VS Pikiran Konsumen


Salah satu pelajaran mahal dalam bisnis adalah antara apa yang kita pikirkan kadang berbeda dengan yang konsumen pikirkan. Seorang pebisnis kadang lebih mengikuti egonya daripada “kenyataan” keinginan konsumen. Antara apa yang kita “desain” dan user experience kadang berbeda. Kita”mengharapkan” konsumen memilih service kita yang mahal dan bermargin tinggi, tetapi mereka memilih service kita yang bermargin rendah dan berharga murah. Kita ingin konsumen beli produk kita yang premium, eksklusif dan bermargin tinggi, tapi ternyata yang mereka “butuhkan” bukan itu, dan mereka cenderung membeli produk bermargin rendah dan berharga murah.

Sebuah produsen diapers besar dan namanya sudah “generic” pernah mencoba “menyerang” kompetitor level bawah-berharga murah   yang menjual diapers di pasar-pasar tradisional dengan “edukasi” bahwa diapers mereka lebih baik dan diapers mereka adalah pionir. Tapi itu gagal total dan tetap saja kompetitor yang aslinya follower itu menang. Sang pionir baru bisa menang melawan kompetitor itu ketika mereka juga “bermain harga”, meluncurkan produk level bawah, bermargin rendah, berharga murah + berbagai paket promo.

Dalam dunia marketing ideal, semua hal di atas ada pada bahasan segmentasi. Itu tergantung segmen yang kita bidik katanya. Namun dalam dunia “marketing jalanan”, dan untuk para pebisnis modal pas-pasan, ada baiknya di awal kita lebih memilih kesehatan cash flow daripada mengejar margin tinggi. Buat apa kita jual produk margin 200% tapi terjualnya 3 bulan sekali (itu pun kalau terjual) dan sangat mengganggu cash flow, daripada menjual produk yang marginnya Cuma 20%, tapi terjual setiap hari.

Kabar Baiknya…


Ada jalan tengahnya. Kita bisa lakukan diversifikasi produk dan bahkan bisnis. Ada produk / bisnis yang mengejar cash flow cepat walau marginnya rendah. Ada produk / bisnis yang mengejar margin besar walau cashlownya lambat. Dan keduanya saling mensubsidi.


Kalau memang ada jalan tengahnya, kenapa nggak dua-duanya? Ya itu pertanyaan lanjutan. Sekali lagi kita bicara dunia riil. Dalam dunia riil, kenapa itu disebut pilihan, karena akan sangat mempengaruhi fokus kerja. Ketika kita memilih menjual produk / jasa yang cash flownya cepat tapi margin rendah, semua energi kita akan dikerahkan ke sana. Bahkan bisa jadi sampai pribadi kita, personal branding kita. Misalnya kalau kita jual paket ayam rica-rica tadi, maka yang paket akan dipromosikan lebih besar daripada yang terpisah. Jika fotografer, kita akan mempromosikan paket foto murah itu lebih sering daripada paket pemotretan korporat. Dst.


Energi kita pada aslinya terbatas, dan karenanya kita seringkali harus memilih. Namun berita baiknya, kalau cash flow kita lancar, lama kelamaan kapital kita akan bertambah. Atau para investor akan mulai melirik bisnis kita dan akhirnya mau “menanamkan” uangnya di bisnis kita. Pada saat itu, barulah kita bisa ekspansi ke produk / jasa yang marginnya tinggi berlipat tetapi secara cash flow lambat. Bahkan pada titik dimana kapital dan kemampuan perusahaan semakin tinggi, kita bisa menikmati margin besar dan cash flow mulai cepat pula (karena frekuensi makin besar).

No comments:

Post a Comment

Jasa Cetak / Percetakan Profesional Melayani Seluruh Indonesia

Kami adalah jasa cetak / percetakan profesional. Kami sudah berpengalaman dalam jasa pencetakan sejak tahun 2005. Dengan sistem layan online, kami bisa melayani pencetakan berbagai produk dari seluruh kota di Indonesia baik di Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya bahkan kota-kota di luar pulau Jawa.

Beberapa produk cetak / percetakan yang bisa kami kerjakan di antaranya, brosur, company profile, buku, banner, katalog produk, kartu nama, kop surat, amplop hingga poster.